Bagaimana Meraih Sikap Rendah Hati?

Rendah hati dalam bahasa Arab disebut ‘tawadhu ’. Kata dasar tawadhu adalah wadha’a yang berarti menunjukan sesuatu yang rendah. Tawadhu menurut ulama akhlak adalah bersikap lembut dan tidak menyombongkan diri. Karena itu para ulama berkata, “Tawadhu” adalah lembut kepada mahkluk, tunduk kepada kebenaran dan tidak menyombongkan diri.”

Tawadhu bukanlah ilmu yang dapat dibaca, atau teori yang bisa dihafalkan dan bukan pula pelajaran yang disampaikan, tetapi tawadhu adalah keahlian yang harus dilatih. Bagi manusia sangatlah mudah menguasai sesuatu dari sisi teori, namun sulit dalam mempraktekannya atau melatihnya hingga menjadi bagian dari tindakan-tindakannya secara alami.

Mungkin Anda bisa mempelajarai bagaimana mengendarai mobil hanya dalam satu menit, namun anda butuh latihan selama sebulan, hingga anda benar-benar bisa mengadarai mobil dengan benar dan menjalankannya secara normal.Demikian pula halnya dengan tawadhu. Mempelajari dasar-dasar dan cara-caranya tidak membutuhkan waktu yang lama, tetapi akan butuh waktu yang lama hingga seseorang bisa mempraktekannya dan menjadi bagian dari tindakannya.

Rendah hati adalah salah satu unsur terpenting bagi kesuksesan hidup dalam masyarakat. Jika Anda ingin menjadi orang terkemuka dan pemimpin dalam masyarakat, diantara teman-teman atau dalam kabilah anda, maka tidak ada sesuatu yang bisa seperti tawwadhu yang bisa mewujudkan apa yang anda inginkan. Sebagaimana dikatakan oleh orang bijak dari China, Lao Tse, “ Orang pintar jika ingin mengusai manuisa, dia akan menempatkan dirinya dibawah mereka dan jika dia ingin menggambarkan mereka, maka dia mengjadikan dirinya di belakang mereka, Tidakkah engkau lihat lautan dan sungai, bagiamana air bertemu dari ratusan anak sungai dan kanal yang ada di atasnya?” 

Tidak ada seorang pun manusia yang menyukai orang yang sombong, membanggakan diri, merasa lebih hebat dari teman-temannya, yang angkuh dalam cara jalan dan perkataannya? Tidak ada seorang pun yang akan menerima kesombongan orang lain dan tak ada satu makhluk pun yang tunduk terhadap keangkara murkaannya. Bahkan membalasnya dengan sikap sombong adalah balasan setimpal untuk menjatuhkan kesombongannya.

Sebagaimana disabdakan oleh Rasulullah SAW, “Jika kalian melihat orang-orang tawadhu dari umatku, maka bersikaplah tawadhu’ kepada mereka; dan jika kalian melihat orang-orang sombong, maka balaslah dengan kesombongan, karena sesungguhnya, hal itu dapat merendahkan mereka.”

Kepada orang mukmin yang baik, kita harus bersikap tawadhu’. Sedangkan kepada orang yang sombong, kita tidak pantas berendah hati kepadanya!
Akhir kata “Berendah hatilah! Karena rendah hati adalah wasiat para nabi kepada umatnya. Tawadhu’lah karena tawadhu adalah nasihat para pemimpin kepada rakyatnya. Tawadhu’lah karena tawadhu adalah hikmah para filosof kepada pengikutnya.

Referensi
1. Ahmad Asy-syarbashi, Mausu’ah Akhlaq AL-Quran, 1/168
2. Abdhulah Ahmad Al-Yusuf, Asy-Syakhshiyah An-Nasjihah, h 143
3. Deill Karneigi, Khifa Taksibu Al-Ashdiqa’ Wa Tu atsiru Fi An-Nas? Hal 175
4. Ihya Ulumudin Bab 3 hal 345

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*


*